Archive for Miscellaneous

Cerita Tentang Tempe

Yeay,  alhamdulillah akhirnya setelah berkali2 mencoba (baca: 3x percobaan) akhirnya di percobaan keempat inilah tempe bener2 jadi. Mm masih ada kekurangan di sana-sini sih, but at least tempe keempat ini dah bisa dimakan, ga pahit walopun bbrp bagian tempe ada yg masih basah gara2 adukan ragi yg kurang merata, but thats fine, tempe enak, safe dong buktinya saya masih bisa nulis ini mpe skg dalam keadaan yg InsyaAllah sehat wal afiat :D

Tempe2 pada percobaan pertama mpe ketiga berakhir tragis:( yes, indeed emang tragis karena tempe selalu berasa pahit walopun secara bentuk dah bagus, setelah konsultasi sana-sini sama ibu2 dan bapak2 yg jual tempe di pasar, termasuk mengunjungi salah satu tempat pembuatan tempe deket rumah (eh baru tau aja gitu kl di deket rumah ada tempat buat tempe, hehe kemane aja mpok selama ini :D ), dan akhirnya berdasarkan hipotesa sederhana kayaknya tempe2 ku yg gagal itu gara2 kebanyakan dikasih ragi, kyaa! meneketehe, perasaan si ragi dah dikasih dikiit aja gitu secuil kira2 seper delapan sendok teh untuk sekitar seperempat kilo kedelai, eh tapi masih aja salah, dan failed. Waktu si ibu yang bikin tempe ngejelasin kalo utk kasus dia aja, 2 karung kedelai (sekarung sekitar 50kg kedelai) dia cuma butuh satu sendok makan penuh ragi, wah kebayang coba betapa sedikitnya ragi yg diperluin kl cuma mo simulasi dengan seperempat atau setengah kilo kedelai. Dan ternyata, suhu ruangan pada saat bikin tempe itu juga ngaruh ke jadi atau gaknya tempe, menurut info nih cmiiw, kl suhu semakin rendah ragi harus dibanyakin, dan sebaliknya, tapi hrs proporsional dg jumlah banyaknya kedelai.

Dan, pas lagi berkunjung sambil belajar di tempat pembuatan tempe nih, baru ngeh kl kata bu Sum (ibu yang punya tempat pembuatan tempe nya) biar tempenya enak harus dikasih air rendaman kedelai yang sudah berbau asam sesaat setelah kedelai direbus, biar tempenya jadi  katanya. eh iya lho, pas kupraktekin emang jadi beneran tuh tempe :) ) Tapi kok kalo baca2 resep orang bikin tempe dari internet ga pake air rendaman kedelai yang asam ini pada jadi2 aja gitu yah tempenya? hmm dont know lah:D

ok dari pada banyak bacot here i put some pictures of my homemade tempe, enjoy! :D

tempe bu Sum di tempat pembuatan tempe

tempe setelah 48 jam dibiarkan

tempe setelah 48 jam dibiarkan 

penampakan tempe yg dah jadi
penampakan tempe yg dah jadi

mendoan
mendoan

Leave a Comment

Programmer yang ber-husnuzon

Seorang dosen programming pernah bilang bahwa satu kunci utk menjadi programmer handal adalah dengan cara jangan mudah mempercayai orang lain. Entah statement ini benar atau salah, yang ada di benakku saat itu adalah “kenapa musti begitu?”, dan hingga hari ini pun aku belum menemukan relevansi antara menjadi seorang programmer handal dengan sikap jangan mudah percaya orang lain. Atau mungkin aku yang ga nyambung dengan penjelasan dosen itu?

Sementara, seorang teman kemarin mengatakan saat kita berpikiran positif maka secara tak langsung kita telah mengalirkan energi positif kpd org lain atau sesuatu, sebagaimana yang dilakukan oleh rasul kita yaitu ber-husnuzon. Trus bukannya kalau sikap yang tidak gampang percaya dengan orang lain itu ada kaitan erat dengan ber-suuzon alias berprasangka buruk?

Kalau begitu lebih baik berkeinginan jadi programmer handal yang ber-husnuzon. Lebih aman karena selalu memenuhi pikiran dengan hal2 positif dan optimis :) , terkadang pikiran negatif justru malah membunuh kreatifitas dan mengendorkan semangat utk maju melangkah. Karena hidup terlalu singkat utk dihabiskan dengan pemikiran yang salah dan mengekang :D

Leave a Comment

programmer ndut :)

Have you ever watched Fear Factor ‘Freaks and Geeks’ edition? If you’ve watched it then it had to be surprised coz the winner of 50.000 dollars was the geeks not the freaks! And guess what, one of the winners was a software analyst or a programmer who had been good in speaking some foreign languages. Wow, that was awesome! And I wonder how could he won Fear Factor with his fat body?!! Well, that was his luck I think, and  I believe he used some smart strategies to win Fear Factor against another teams.

But, there was something took my attention. The geek was a software analyst whose body was fat, I don’t  say that a fat body is strange but it was just a little bit rare to find a fat programmer.  Many people said that when you become a programmer, a software analyst, a system analyst, or another IT worker/staff then you’re gonna have so many things inside your head, unfinished codes, wrong codes, bugs, endless project analysis, unstable software, hard to do the database management, and many things which take your time till you can’t eat regularly :) , and finally you’ll find that your body is not the way it used to be. Getting thin, slim and slimmer day by day. At least, I’ve ever proved it by myself :)

 

I also ever met a java programmer, he was smart, no doubt that he was one of the great java programmer in his campus. And he was fat too. And couple days ago, I visited the IT division in one of government officer in my town, I met one of the staff and he was fat too. Then  I believe that the quote ‘programmer must be thin and slim’ is not right at all now, isn’t it?

Leave a Comment

Country n Technology

Ga sengaja, tadi malam nonton acara di TVRI tentang profil Taipei. Ga nyangka ya kalau ternyata Taipei sudah semaju itu! Diam-diam negara asalnya F4 yang terkenal dengan Meteor Garden-nya itu sudah lumayan prosper, sediam Korea Selatan yang pelan-pelan menjadi macan Asia, menyaingi Japan. Di acara tersebut diperlihatkan betapa masyarakat dan pemerintah Taipei sudah sangat familiar dengan penerapan IT dalam berbagai bidang dan kegiatan.

Setiap kota-kota besar kayaknya sudah lumrah deh dengan adanya masalah transportasi. Terutama Jakarta…yang sampe sekarang belum nemuin solusi yang pas bin mantap ttg mslh transportasi sekalipun busway dan kereta AC ekonomi sudah dioperasikan. Di acara profil Taipei tsb diperlihatkan kalau  di Taipei bus-bus dan taxi cab telah menggunakan teknologi GPS buat menghindari kemacetan dan pencarian jalan alternatif. Hmmm..how nice…memang sih GPS penting terutama buat penerapan pembentukan daerah blok sensus utk kepentingan survey dan sensus, hehehe…dasar orang statistik :) . Tapi apa mungkin taxi n bus or angkot ber-GPS di daerah padat kendaraan mungkin diterapkan di Indonesia?? Almost impossible deh…it takes time for it, tp ga musti ganti millennium kan buat nerapin teknologi sejenis ini??? Only God knows.

Terus, belum lagi di Taipei tepatnya di daerah Taichung, ada sebuah pasar ikan yang kegiatan pelelangannya sdh diterapkan dgn system digital. Bayangin coba, di pasar ikan yang becek n basah gitu transaksi jual beli nya sudah menggunakan e-commerce!! Hal ini didukung jg dengan kebiasaan masyarakatnya yang sudah terbiasa menggunakan internet untuk jual beli barang. Jadi masyaraktnya udah biasa dengan internet banking, e-commerce, digital signature, n so on lah. Jadi, teknologi sebenernya ga kenal kaya or miskin, siapapun bisa pake buat apa pun, selama pemerintahnya memberikan kemudahan untuk menggunakan dan mengakses teknologi di mana pun berada.

Sekalipun pemerintah kita belum memberikan kemudahan untuk menggunakan dan mengakses teknologi, tapi kita harus tetep meng-up grade knowledge di mana pun kita berada, meskipun harus bayar krn di negara kita ga ada yang gratis :(

Wah…wah…wah…wah kapan yah negara kita being a step ahead dari developing country jadi developed country??

Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 748 other followers